Rabu, 15 November 2017

Laporan Geo Hidrologi

Laporan

OBSERVASI GEOGRAFI HIDROLOGI
( DESA LIMPOK )

Disusun Oleh:
ILHAM MAULANA
( 1406101040039 )

Dosen Pembimbing :
Drs. Hasmunir, M.Si


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                                  S-1 PENDIDIKAN GEOGRAFI             
BANDA ACEH
2016

KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat    ALLAH SWT, karena atas berkah dan rahmat-Nyalah penulis telah dapat menyelesaikan Laporan Geografi Hidrologi, dimana Laporan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah. Tak lupa pula shalawat dan salam saya sampaikan kepada Nabi Muhammad saw yang telah mengarahkan manusia kejalan hidup yang benar.
Dalam penulisan Laporan ini, saya merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknik penulisan maupun materi yang ada di dalamnya, mengingatakan kemampuan yang saya miliki. Pada kesempatan ini tidak lupa pula saya menyampaikan ucapan Terima Kasih kepada Bapak Drs. Hasmunir, M.Si beserta Assistantnya yang telah membantu dan membimbing dalam kegiatan ini.


Banda Aceh, 2 Juni 2016

                                                                                   
Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I Pendahuluan ....................................................................................   1
1.1 Lata Belakang  ...........................................................................................   1
1.2 Tujuan Observasi .......................................................................................   1
1.3 Manfaat ......................................................................................................   2

BAB II LANDASAN TEORI ..............................................................................   3
2.1 Pengertian Geohidrologi ............................................................................   3
2.2 Air Tanah....................................................................................................   3
2.3 Akuifer .......................................................................................................   4
2.4 Jenis-Jenis Akuifer .....................................................................................   5
2.5 Hidrologi Sumur (Pergerakan Alira Air Sumur) ........................................   8

BAB III Prosedur Kerja ............................................................................   10
3.1 Waktu dan Tempat Observasi ....................................................................   10
3.2 Alat dan Bahan Observasi .........................................................................   10
3.3 Cara Kerja ..................................................................................................   12

BAB IV Hasil dan peNGAMATAN.............................................................   15
4.1 Hasil Pengamatan Sumur A,B dan C ........................................................   15

Bab V Penutup ...............................................................................................   16
5.1 Kesimpulan ................................................................................................   16
5.2 Saran ..........................................................................................................   16

Daftar Pustaka...........................................................................................   17


DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................   18

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Air tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah pada zona jenuh air, dengan tekanan hidrostatis sama atau lebih besar daripada tekanan udara. Sumber utama air tanah adalah air hujan yang meresap ke dalam tanah mengikuti suatu proses yang disebut daur hidrologi. Selain dari air hujan, air tanah dapat pula berasal dari air yang berada di luar daur hidrologi.
Untuk menentukan arah aliran air tanah secara lokal, dapat dilakukan dengan menggunakan tiga buah sumur yang diketahui ketinggian tertentu dapat ditentukan arah alirannya, dengan cara menarik garis aliran tegak lurus garis kontur tersebut. Garis aliran pada peta kontur muka air tanah sangat bermanfaat untuk menentukan lokasi sumur baru.
Aliran permukaan dapat berfungsi sebagai pemberi air (influent stream) dan sebagai penerima air (effluent stream). sebagai pemberi air apabila kedudukan aliran permukaan lebih dangkal dibandingkan kedudukan muka air tanah. Sebagai penerima air apabila kedudukan aliran permukaan lebih dalam dibandingkan kedudukan muka air tanah.

1.2  Tujuan Observasi
Tujuan dalam laporan kali ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada Mahasiswa mengetahui langsung berdasarkan praktek lapangan dari ke tiga sumur tersebut dengan mengetahui suhu udara, suhu air, kedalaman muka air, pH sumur, warna, kecerahan, dan rasa air tersebut.



1.3  Manfaat
Manfaat praktikum ini yaitu memberikan pemahaman kepada kami semua bagaimana mengukur diameter muka sumur dan kami juga dapat mengukur sendiri berapa suhu udara – air maupun pH dan pengukuran lainnya. Dengan melakukan Observasi ini kami banyak mendapatkan manfaat untuk pedoman membuat sumur galian yang baik dan terjaga kualitas maupun kuantitasnya dari percemaran.



BAB II
Landasan Teori

2.1  Pengertian Geohidrologi
Geohidrologi adalah cabang ilmu hidrologi yang mempelajari keberadaan persebaran, pergerakan serta sifat fisik dan kimia air di bawah permukaan tanah.
Selain geohidrologi cabang hidrologi. Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari air dalam segala bentuknya (cairan, gas dan padat) dan diatas permukaan tanah termasuk didalamnya adalah penyebaran daur dan perilakunya, sifat-sifat fisika dan kimianya, serta hubungannya dengan unsur-unsur hidup dalam air itu sendiri.
 Ada beberapa pengertian hidrologi, hidrologi juga berarti cabang ilmu Geografi yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di seluruh bumi, termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air. Orang yang ahli dalam bidang hidrologi disebut hidrolog, bekerja dalam bidang ilmu bumi dan ilmu lingkungan, serta teknik sipil dan teknik lingkungan. Hidrologi merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah (air tanah), distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lain sebagainya, temasuk di dalamnya mengkaji asal usul air tanah.

2.2  Air Tanah
Air Tanah adalah air (yang berasal dari air hujan) yang tersimpan pada rongga-rongga (porosity/intencities) batuan atau tanah pada rongga jenuh yang bergerak.  Rongga jenuh disebut juga saturated zone. Air Tanah bergerak dengan kecepatan maksimum 10m/hari dan kecepatan minimum 1m/hari. Secara umum berarti ada airtanah yang bergerak lebih cepat dan lebih lambat dari 10m/hari dalam kondisi tertentu. namun ada juga dalam suatu tempat yang airtanahnya tidak bergerak. Kecepatan airtanah bergantung dari kemiringan lereng, jenis batuan, dan struktur batuan. Tidak setiap batuan memiliki porositas, tergantung dari jenis batuannya. Keberadaan air tanah sangat tergantung  besarnya curah hujan dan besarnya air yang dapat meresap kedalam tanah.
Faktor yang mempengaruhi adalah kondisi litologi (batuan) dan geologi setempat. Kondisi tanah yang berpasir lepas atau batuan yang permeabilitasnya tinggi akan mempermudah infiltrasi air hujan kedalam formasi batuan. Dan sebaliknya, batuan dengan sementasi kuat dan kompak memiliki kemampuan untuk meresapkan air kecil. Dalam hal ini hampir semua curah hujan akan mengalir  sebagai limpasan (runoff) dan terus ke laut. Faktor lainnya adalah perubahan lahan-lahan terbuka menjadi pemukiman dan industri, serta penebangan hutan tanpa kontrol. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi infiltrasi terutama bila terjadi pada daerah resapan (recharge area) (Usmar dkk., 2006).

2.3  Akuifer
Akuifer adalah lapisan batuan dibawah permukaan tanah yang mengandung air dan dapat dirembesi air. Akuifer adalah formasi geologi atau grup formasi yang mengandung air dan secara signifikan mampu mengalirkan air melalui kondisi alaminya. Batasan lain yang digunakan adalah reservoir air tanah, lapisan pembawa air. Todd (1955) menyatakan bahwa akuifer berasal dari Bahasa Latin yaitu aqui dari aqua yang berarti air dan ferre yang berarti membawa, jadi akuifer adalah lapisan pembawa air.
Secara umum dalam ilmu hidrogeologi, akifer merupakan suatu batuan/formasi yang mempunyai kemampuan menyimpan dan mengalirkan airtanah dengan jumlah yang berarti (significant). Batuan-batuan yang berumur tua biasanya telah mengalami kompaksi dan sementasi sehingga ruang antar butiran menjadi rapat termampatkan, menyebabkan tidak bisa menampung dan meloloskan air dalam jumlah banyak dan bahkan menjadi kedap air (impermeable).
Dengan kata lain permeablitas dan porositasnya kecil demikian juga halnya dengan batuan beku dan batuan metamorfik. Pada zona-zona seperti ini sangat sulit sekali diharapkannya ada air tanah kecuali batuan-batuan tersebut banyak mengandung rekahan (fracture) yang selanjutnya disebut sebagai akuifer rekahan (fracture akuifer) Rekahan dapat disebabkan oleh tiga kemungkinan yaitu :
a.       Pendinganan yang berlangsung pada saat pembentukan batuan, 
b.      Erosi batuan dan pelepasan tekanan dari overburden, 
c.       Efek struktur regional (flexing and faulting). 

2.4  Jenis – Jenis Akuifer


Berdasarkan litologinya, akuifer dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:

1)   Akuifer bebas atau akuifer tidak tertekan (Unconfined Aquifer) 
Akuifer bebas atau akuifer tak tertekan adalah air tanah dalam akuifer tertutup lapisan impermeable, dan merupakan akuifer yang mempunyai muka air tanah. Unconfined Aquifer adalah akuifer jenuh air (satured). Lapisan pembatasnya yang merupakan aquitard, hanya pada bagian bawahnya dan tidak ada pembatas aquitard di lapisan atasnya, batas di lapisan atas berupa muka air tanah. Permukaan air tanah di sumur dan air tanah bebas adalah permukaan air bebas, jadi permukaan air tanah bebas adalah batas antara zone yang jenuh dengan air tanah dan zone yang aerosi (tak jenuh) di atas zone yang jenuh. Akuifer jenuh disebut juga sebagai phriatic aquifer, non artesian aquifer atau free aquifer (Wuryantoro, 2007).
Air tanah ini banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk berbagai keperluan dengan kedalaman sumur umumnya antara 1 – 25 meter. Air tanah bebas masih merupakan sumber utama air bersih bagi sebagian besar penduduk dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara pembuatan sumur gali dan sumur pantek pada kedalaman kurang dari 20 meter di bawah permukaan, umumnya terdapat pada lapisan pasir, pasir kerikilan, tufa pasiran dan pasir lanauan. Air tanah bebas di dataran aluvial terdapat dalam lapisan pasir, pasir lempungan, pasir kerikilan dan pasir lempungan. 
Mutu air tanah bebas bervariasi dari baik hingga jelek, asin rasa airnya hingga tawar, berwarna keruh hingga jernih. Kesadahannya berkisar antara 8,5 – 16,7, pH sekitar 6,7 – 11,2, sisa kering 353 – 580, sisa pijar 252 – 420, kadar kandungan ion klorida berkisar 25,5 – 6.685 mg/l, SO4 antara 40,5 – 246,9 mg/l. Khususnya untuk keperluan rumah tangga sehari-hari, kandungan air tanah bebas di dataran aluvial terkecuali daerah-daerah sekitar pantai, pemanfaatannya masih dapat dikembangkan. Sedangkan untuk daerah-daerah yang terletak sekitar 1 – 3 km dari garis pantai, penggunaan air tanah bebasnya sangat terbatas sekali disebabkan asin hingga payau rasa airnya. (Anonim3, 2008).

2)   Akuifer tertekan (Confined Aquifer) 
Akuifer tertekan adalah suatu akuifer dimana air tanah terletak di bawah lapisan kedap air (impermeable) dan mempunyai tekanan lebih besar daripada tekanan atmosfer. Air yang mengalir (no flux) pada lapisan pembatasnya, karena confined aquifer merupakan akuifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas dan bawahnya.

3) Akuifer bocor (Leakage Aquifer) 


Akuifer bocor dapat didefinisikan suatu akuifer dimana air tanah terkekang di bawah lapisan yang setengah kedap air sehingga akuifer di sini terletak antara akuifer bebas dan akuifer terkekang.

4) Akuifer melayang (Perched Aquifer) 

Akuifer yang disebut akuifer melayang jika di dalam zone aerosi terbentuk sebuah akuifer yang terbentuk di atas lapisan impermeable. Akuifer melayang ini tidak dapat dijadikan sebagai suatu usaha pengembangan air tanah, karena mempunyai variasi permukaan air dan volumenya yang besar.
Sedangkan menurut Kruseman dan deRieder, 1994. Berdasarkan sifat fisik dan kedudukannya dalam kerak bumi, akifer dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : 
a.       Kifer bebas, yaitu akifer tak tertekan (unconfined aquifer) dan merupakan airtanah dangkal (umumnya <20 m), umum dijumpai pada daerah endapan aluvial. Airtanah dangkal adalah airtanah yang paling umum dipergunakan sebagai sumber airbersih oleh penduduk di sekitarnya. 
b.      Akifer setengah tertekan, disebut juga akifer bocor (leaky aquifer), merupakan akifer yang ditutupi oleh lapisan akitard (lapisan setengah kedap) di bagian atasnya, dapat dijumpai pada daerah volkanik (daerah batuan tuf). 
c.       Akifer tertekan (confined aquifer), yaitu akifer yang terletak di antara lapisan kedap air (akuiklud), umumnya merupakan airtanah dalam (umumnya > 40 m) dan terletak di bawah akifer bebas. Airtanah dalam adalah airtanah yang kualitas dan kuantitasnya lebih baik daripada airtanah dangkal, oleh karenanya umum dipergunakan oleh kalangan industri termasuk di dalamnya kawasan pertambangan (Iskandarsyah, 2008).  


Gambar: Ilustrasi tiga jenis akuifer menurut kruseman dan deRieder, 1994

2.5  Hidrologika Sumur (Pergerakan Aliran Air Sumur)
Dalam kajian hidrologika sumur ini membahas tentang tipe-tipe aliran air tanah menuju sumur yang terjadi akibat pemompaan dan metode-metode analisis uji coba pompa.
Dalam kajian hidrologika sumur ini merupakan dasar dalam memahami model pergerakan air di bawah permukaan tanah.

2.5.1 Aliran Steady Searah

Aliran Steady Searah adalah aliran yang tidak berubah karena perubahan waktu. Aliran ini dibedakan antara aliran pada akuifer tertekan dan aliran steady pada akuifer bebas.

2.5.2 Aliran Steady ke Sumur

Bila dilakukan pemompaan di suatu sumur, akan terjadi penurunan muka air tanah di sumur dan disekitar sumur tersebut. Bentuk drawdown atau penurunan muka air tanah tersebut bila dilihat secara 3 dimensi, bentuk curve drawdown adalah seperti kerucut yang disebut kerucut depresi.

Aliran ini memiliki tiga tipe aliran yaitu aliran steady ke sumur pada akuifer tertekan, aliran ke sumur pada akuifer tettekan yang luas, aliran ke sumur yang menembus akuifer bebas.

2.5.3 Aliran Tidak Steady ke Sumur

Bila sumur yang menembus akuifer tertekan dipompa, pengaruh pemompaan akan meluas sesuia denga lamanya waktu pemompaan. Drawdown akan terus turun hingga tercapai keadaan steady. Keadaan aliran air tanah sebelum mencapai steady disebut aliran tidak steady.



BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1  Waktu dan Tempat Observasi
Hari/Tanggal : Rabu/1 Juni 2016
Pukul : 14:00 – 16:15 WIB
Tempat : Desa Limpok. Kec.Darussalam. Kab. Aceh Besar

3.2  Alat dan Bahan Observasi
1)      Thermometer air
2)      Kertas lakmus
3)      Timba
4)      Kayu
Description: IMG20160601161603.jpg



5)      Meteran
Description: IMG20160601161519.jpg
6)      Spidol
Description: SPM_A0995
7)      Selang
 Description: IMG20160601161511.jpg
3.3  Cara Kerja
A.    Praktikum I
Langkah I:
1.      Tentukan sumur A, sumur B, dan sumur C.
2.      Ukurlah jarak atau tinggi dari permukaan air sumur ke pemukaan sumur pada sumur A dengan menggunakan meteran
3.      Ukurlah jarak dari permukaan tanah ke permukaan sumur
4.      Kemudian ukurlah diameter sumur A.
5.      Hitunglah kedalaman muka air dengan cara jarak permukaan air ke permukaan sumur dikurang dengan jarak dari permukaan tanah ke permukaan sumur
6.      Ulangi langkah-langkah di atas pada sumur B dan juga sumur C

Langkah II:
1.      Pasanglah patokan kayu pada sumur A, B dan C secara vertikal
2.      Gunakanlah selang antara kedua sisi masing-masing sumur, misal antara sumur A dan sumur B
3.      Hubungkanlah pada kedua titik
4.      Letakkan selang pada kedua patok kayu, dan sesuaikan antara kedua sumur tersebut.
5.      Lalu sesuaikan titik keseimbangan air yang sudah tenang dan tandailah pada patok dengan spidol
6.      Ukurlah jarak dari permukaan sumur ke patok yang telah ditandai dengan menggunakan meteran
7.      Lalu hitunglah jarak permukaan sumur ke patok yang telah ditandai di tambah  dengan permukaan sumur ke permukaan tanah.
8.      Ulangi langkah-langkah di atas terhadap sumur-sumur yang lain.



B.     Praktikum II
Tujuan :
1.      Untuk mengetahui Ph air
2.      Untuk mengatahui tingkat keasamannya
3.      Untuk mengetahui kelembaban air
4.      Untuk mengetahui kelembaban udara pada daerah tesebut.

Alat dan Bahannya adalah sebagai berikut :
1.      Kertas Lakmus
2.      Timba
3.      Thermometer Air

Langkah I:
1.      Ukurlah Ph pada ketiga sumur yaitu sumur A, sumur B, dan sumur C dengan menggunakan kertas lakmus
2.      Ambillah air pada sumur tersebut secukupnya dengan menggunakan timba
3.      Teteskanlah air tersebut pada kertas lakmus
Description: SPM_A1010
4.      Amatilah reaksinya
5.      Setelah bereaksi, cocokkanlah warna tersebut.
Description: SPM_A1008
6.      Tentukan pada warna yang keberapa
7.      Tentukanlah Phnya dengan cara melihat angka pada warna yang telah dicocokkan

Langkah II
1.      Ukurlah tingkat keasaman pada ketiga sumur tersebut
2.      Ambillah air pada sumur tersebut secukupnya dengan menggunakan timba
3.      Teteskanlah air tersebut pada kertas lakmus
4.      Amatilah reaksinya
5.      Setelah bereaksi, cocokkanlah warna tersebut.
6.      Tentukan tingkat keasamannya

Langkah III:
1.      Ukurlah kelembaban air dengan menggunakan thermometer air pada ketiga sumur tersebut
2.      Ambillah air pada sumur tersebut secukupnya dengan menggunakan timba
3.      Celupkanlah thermometer air ke dalam air tersebut
4.      Amatilah thermometer tersebut
5.      Tentukanlah tingkat kelembapan air tesebut
6.      Kelembaban air terdiri dari satuan derajat celcius.



BAB IV
HASIL DAN PENGAMATAN

4.1  Hasil Pengamatan Sumur A, B dan C
No.
Data
Sumur A
Sumur B
Sumur C
1.
Suhu Udara    
32 0C
32 0C
32 0C
2.
Suhu Air
29 0C
29 0C
29 0C
3.
Kedalaman air ke permukaan
260 cm
256 cm
248 cm
4.
pH air sumur
6
6,5
6,5
5.
Tinggi muka Sumur dari tanah
40 cm
52 cm
25 cm
6.
Diameter Sumur
80 cm
90 cm
92 cm
7.
Warna air
Jernih/Bening
Jernih/Bening
Jernih/Bening
8.
Rasa air sumur
Tawar
Tawar
Tawar




BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
        Berdasarkan hasil pengamatan praktikum, sumur yang terdalam adalah sumur C. Sumur B dengan kedalaman 204 cm, sedangkan sumur C adalah 223 cm dan sumur A adalah 220 cm. Sedangkan  Ph dan kelembaban air relatif sama antara ketiga sumur tersebut.

5.2  Saran
        Dalam penyusunan Laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, namun dengan adanya petunjuk, arahan dan bimbingan dari dosen serta dukungan dari kawan-kawan maka penulis dapat menyelesaikan paper ini. Akan lebih baik, kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan tugas ini kelak. Semoga tugas ini bermanfaat bagi penulis dan para pembaca sekalian.



DAFTAR PUSTAKA

      Hasmunir. -. BAHAN AJAR GEOHIDROLOGI
      http://www.google.com
      Todd . D . K ., 1980. Groundwater Hydrologi. John Wiley and Sons, New York.
      Zohdy. A. A. R., 1980. Application of Surface Geophysios to Groundwater Investigations.
      Macmudi, Alimin. S. 10994. PeganganGeografi. Bandung: Armico
      Suhardi. 2004. Geografi 1 Untuk SMA Kelas X. Semarang: Aneka Ilmu
      http://www. Wikipedia.com/ Laporankuliahlapanganhidrologi.
      http://www. Wikipedia.com/ Devinisiwadukataubendungan.