Senin, 15 Juni 2015

Laporan Observasi Geomorfologi Unsyiah

Laporan

OBSERVASI 
GEOMORFOLOGI
( Gunung Mata Ie dan Lampuuk Babah 2 )

Disusun Oleh:

ILHAM MAULANA
1406101040039
( Unit B )
Drs. Hasmunir, M.Si



UNIVERSITAS SYIAH KUALA
PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
S-1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
DARUSSALAM BANDA ACEH
2015 

 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Geomorfologi adalah sebuah studi ilmiah terhadap permukaan Bumi dan proses yang terjadi terhadapnya. Secara luas, berhubungan dengan landform (bentuk lahan) tererosi dari batuan yang keras, namun bentuk konstruksinya dibentuk oleh runtuhan batuan, dan terkadang oleh perilaku organisme di tempat mereka hidup.
Bentuk lahan merupakan bentuk pada permukaan bumi sebagai hasil perubahan bentuk permukaan bumi oleh proses – proses gemorfologi yang beroperasi dipermukaan bumi . semua perubahan fisik maupun kimia pada permukaan bumi oleh tenaga – tenaga geomorfologi. Semua tenaga yang ditimbulkan oleh medium alam yang berada dipermukaan bumi termasuk di atmosfer . Proses merupakan perubahan bentuk lahan dalam waktu relatif pendek akibat adanya gaya eksogen serta waktu perkembangan relatif pendek. Bentuk lahan atau Landform  adalah bentukan alam di permukaan bumi khususnya di daratan yang terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu pula (Marsoedi, 1996).
Mata Kuliah Geomorfologi, setiap tahunnya melakukan penelitian atau Observasi yang mana untuk menambah pengetahuan dan pengalaman para mahasiswa yang mana kegiatan Observasi tersebut dilakukan di Gunung Mata Ie dan Lampuuk Babah 2. Pada Gunung Mata Ie kami melakukan pendakian disana untuk mencari yang namanya Dolin, tapi pada saat kami sudah mendaki ternyata kami tersesat jadi kami harus turun lagi untuk mencari Dolin yang lain.
Pada Saat kami pergi ke Lampuuk Babah 2, kami disana untuk melakukan kegiatan yaitu mengukur kemiringan lereng, Bentuk lahan marin yang berasal dari pasir yang mengalami pelapukan dari batu yang jatuh yang terbentuk karena angin membentuk bukit pasir, termasuk batuan kapur.
B.     Tujuan Observasi

1.      Dengan melakukan observasi kelapangan diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami teori-teori yang dipelajari sehingga dapat di aplikasikan pada masyarakat.
2.      Dapat melihat langsung bagaimana yang di maksud dengan doline.
3.      Agar dapat menghitung  kemiringan suatu lereng secara langsung.
4.      Mengenal lebih dalam bentuklahan bentuk asal struktural


C.    Waktu dan Tempat Observasi

Observasi ini di laksanakan pada hari Senin pada tanggal  2 Juni 2015 yang tepatnya di dua tempat yaitu :
1)      Gunung Mata ie
2)      Lampuuk Babah 2



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Alat-Alat Yang Digunakan Observasi dan Fungsinya

a.       Palu                      :           untuk mengetok batuan yang didalam bukit, tapi kami tidak ada palu, jadi kami menggantikan dengan batu seadanya.
b.      Botol                    :           untuk memasuki HCL.
c.       Pipet                     :           untuk meneteskan HCL pada batuan
d.      Sarung tangan      :           untuk melindungi tangan dari tetesan HCL dan H2O2.
e.       Timba                   :           digunakan untuk memasuki alat-alat observasi
f.       Kayu                    :           untuk mengetahui kemiringan lereng
g.      Bolot                    :           untuk mengukur keseimbangan
h.      Meteren                :           untuk mengukur kemiringan lereng
i.        Busur                    :           untuk mengetahui siku-siku dari kayu

Botol dan Pipet
Kayu
IMG20150601161014...jpg
IMG20150601160408...jpg



Bolot
Meteran
IMG20150601160455...jpg
IMG20150601162812...jpg


B.     Penelitian di tempat Gunung Mata Ie

Pegunungan ini terjadi akibat dari proses lipatan yang bersifat denudasional dan kemudian mengalami proses pengangkatan, dan hal ini di tandai dengan adanya patahan batuan yang ada di sekitar pegunungan serta bukit terjal yang mengelilinginya. Struktur tanah yang terdapat di kawasan gunung mata ie merupakan hasil dari pelapukan batuan yang keras dan belum mengalami pelapukan secara sempurna, sehingga merupakan tanah yang subur.
Gunung Mata Ie ini juga terbentuk karena adanya tenaga endogen ( tenaga dari dalam ) sehingga terjadi pengangkatan yang terbentuk patahan ( sesar ). Semua tebing tersebut termasuk batuan karst. Dan ditebing tersebut terdapat gua, gua itu terbentuk karena adanya kandungan batuan kapur, batuan kapur itu mudah larut jadi menyebabkan terbentuknya gua tersebut dan mengalami pengikisan yang disebabkan oleh air hujan dan angin, dan lama kelamaan terbentuklah Stalagtit dan Stalagmit. Stalagtit dan Stalagmit yang sering kita jumpai di goa-goa berasal dari senyawa CaCO3 dengan persamaan reaksi :
Ca ( HCO3 )2 (1)CaCO3 (s) + H2O (1) + CO2 (g)



1.      Stalagtit
Stalagtit adalah Batu kapur yang tumbuh dari bagian atas goa menuju ke dasar goa.
2.      Stalagmit
Stalagmit adalah Batu kapur yang tumbuh menjulang dari dasar goa (bawah)  ke atas.

Bentuk lahan bentukan asal proses pelarutan berkembang dengan beberapa syarat sebagai akibat dari proses pelarutan, yaitu :

1)      Terdapat batuan yang mudah larut
2)      Batu gamping dengan kemurnian tinggi
3)      Mempunyai lapisan batuan yang tebal
4)      Pada daerah tropis basah
5)      Terdapat banyak diaklas ( retakan )
6)      Vegetasi penutup yang lebat

Menurut Jenings (1971), Karst merupakan suatu kawasan yang mempunyai karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh larutan batuannya yang tinggi.
Tektonisme menjadi faktor penentu pula, sesar (fault) dan kekar (joint) menjadi faktor yang amat penting. Menurut Faniran dandan jeje (1983), kekar-kekar yang terdapat pada batuan itu memberikan regangan mekanik, sehingga memudahkan gerakan air melalui batuan itu. Adanya kekar maupun sesar ini memudahkan pelarutan di dalam batuan.
Bentuk lahan karst dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yakni bentuklahan negatif dan bentuk lahan positif. Bentuk lahan negatif terdiri dari: Doline, Uvala, Polje, Blind Valley. Sedangkan bentuklahan positif terdiri dari: Kygelkarst dan turmkarst. Dalam hal ini saya akan menjelaskan sedikit ulasan tentang bentuk lahan negatif khususnya Doline karna menyangkut dengan materi observasi.
Doline merupakan suatu istilah yang mempunyai banyak sinonim antara lain. Sink, sinkhole, cockpit, blue hole, swallow hole, ataupun cenote. Doline itu sendiri diartikan oleh Monroe (1970) sebagai suatu ledokan atau lobang yang berbentuk corong pada batugamping dengan diameter hingga 1 km dan kedalamannya dari beberapa meter hingga ratusan meter.

C.    Penelitian di tempat Lampuuk Babah 2

Pantai babah dua merupakan daerah pesisir, yang memiliki kemiringin lereng diberbagai tempat. Di pantai ini juga terdapat batuan hasil lipatan yang terjadi dalam air laut. Daerah ini merupakan pantai atau daerah pesisir yang memiliki keindahan tersendiri. Di samping tempatnya yang indah dan nyaman untuk berekreasi bersama keluarga, kita juga dapat menyaksikan keindahan alam yang begitu indahnya.

1)      Proses struktural

Bentuklahan struktural terbentuk karna adanya proses endogen yang disebut proses tektonisme atau diatropisme. Proses ini meliputi pengangkatan, penurunan, dan pelipatan kerak bumi sehingga terbentuk struktur geologi yaitu lipatan dan patahan.
Bentuklahan ini ditentukan oleh tenaga endogen yang menyebabkan terjadinya deformasi perlapisan batuan dengan menghasilkan struktur lipatan, patahan, serta perkembangannya.
Bentuklahan ini dicirikan oleh adanya perlapisan batuan yang mempunyai perbedaan ketahanan terhadap erosi. Akibat adanya tenaga endogen tersebut maka terjadi deformasi sikap (attitude) perlapisan batuan yang semula horizontal menjadikan miring atau bahkan tegak dan membentuk lipatan. Penentuan nama suatu bentuk lahan struktural pada dasarnya didasarkan pada sikap perlapisan batuan (dip dan strike).
Disamping itu tenaga penyebab terjadinya bentukan struktural ini dapat berupa tekanan dari lapisan diatasnya yang tebal ke arah vertikal (bawah) sehingga massa sedimen yang lemah dan lunak dibawahnya tertekan.

2)      Proses Marin

Bentuklahan proses marin dimaksudkan bentuklahan yang diakibatkan oleh adanya kegiatan gelombang dan arus laut yang membawa material sedimen laut dan diendapkan pada suatu mintakat yang dipengaruhi oleh gelombang dan arus tersebut. Perbedaan utama kenampakan bentuk lahan ini pada suatu kondisi apakah pantai berbatu, pantai penghalang, pantai berpasir, pantai berlumpur atau lagun.
Bentuklahan proses marin antara lain :
·         platform (rataan pasang surut)
·         cliff dan notch
·         spit (lidah gosong pasir laut)
·          ledok antara beting pasir laut
·          hamparan lumpur (mudflat)
·         dataran pantai

·         gisik
·         beting gisik
·         tombolo
·         dataran aluvial pantai
·         teras marin
·         lagun


3)      Dinding Tebing yang terjal

Daerah pantai babah dua lampuuk ini merupakan daerah pesisir bertebing terjal, pantai biasanya bentuk batuannya berkelok-kelok dan banyak terdapat gerak massa batuan sehingga menyebabkan tebing bergerak dan mengalami kemunduran terutama pada pantai yang proses abrasinya aktif. Pesisir bertebing terjal pada umumnya menunjukkan kenampakan mirip lereng atau lembah pengikisan yang pasang surut gelombangnya mengikis bagian tebing dan meninggalkan bekas abrasi.
Batuan yang terdapat di tebing yang terjal yang terletak di kawasan babah memiliki struktur yang berbeda-beda.jika kita melihat dengan nilai kesenian itu merupakan sebuah seni yang tak ternilai maknanya.namun,saat ini yang timbul di pikiran kita, apa yang menyebabkan tebing tersebut terjal dan memiliki bentuk yang tak sama? dan jawabannya adalah karena tebing tersebut mengalami pengikisan oleh angin maupun air (ombak).bagian bawah tebing terlalu ke dalam,dan berbeda dengan tebing yang ada di bagian atasnya yang terlalu mencondong ke arah pantai.ini merupakan salah satu akibat pengikisan yang di lakukan oleh air (ombak) bagian bawah tebing selalu terkena hembusan ombak,dan semakin lama semakin mendur, berbeda dengan bagian tebing yang diatas.
Ada pula batuan-batuan yang terdapat di tebing tersebut lama-kelamaan mengalami pelapukan dan akan jatuh ke permukaan pantai sebagai tekstur yang sudah berubah.bukan lagi jenis batu,melainkan tekstur lain yaitu tanah.

4)      Batuan Kapur

Batuan kapur merupakan batuan sebuah batuan sedimenterdiri dari mineral calcite (kalsium carbonate). Sumber utama dari calcite ini adalah organisme laut. Batuan kapur atau batuan gamping (limestone) termasuk batuan sedimen. Batuan sedimen sering pula disebut dengan batuan endapan. Batuan ini berwarna putih, kelabu, atau warna lain yang terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3). Batuan kapur ini pada dasarnya berasal dari sisa-sisa organisme laut seperti kerang, siput laut, radiolarit, tumbuhan/binatang karang (koral), dan sebagian yang telah mati.

5)      Mengukur Kemiringan Lereng

Lereng merupakan sebuah permukaan tanah yang terbuka yang berdiri membentuk sudut tertentu terhadap horisontal namun  tanpa memiliki perkuatan. Lereng dapat terjadi secara ilmiah maupun buatan manusia. Jika tanah tidak horisontal, suatu kSelain untuk mengetahui kemiringan lereng, identifikasi tentang garis kontur juga dapat untuk mengetahui bentuk lereng. Berdasarkan bentuknya, lereng dapat berbentuk seragam, cekung, ataupun cembung.



BAB III
HASIL PENELITIAN

A.    Praktikum
Hari dan Tanggal        : Selasa,02 Juni 2015
Tujuannya                   : Melihat jenis batuan dan kemeringan lereng
Alat dan Bahan           : Meteran, Kayu dan Cairan HCl                     

Cara Kerja                :
a)      Untuk Menguji Batuan :
·         Ambil sedikit cairan HCl, Teteskan HCL ke batu sampel.
·         Jika hasilnya Berbuih maka jenis batu kapur.

b)      Untuk mengukur kemiringan lereng
·         Tancapkan kayu ke pasir lalu sisipkan kayu pada bidang dasar dan bidang miring kayu sehingga membentuk sudut siku-siku.
·         Ukurlah Sisi-sisi pada kayu tersebut dengan mengunakan meteran yang telah di bawa.

Percobaan :
1)      Kemiringan Lereng ( 100 - 90 = 10 ). 90 itu adalah titik dasar, dan pasir ini adalah Pasir agak landai. dan Lerengnya menghadap ke ( Timur Laut ).
Tekstur pada pasir ini ( Kasar, mudah lepas, mengandung karang, dan kapurnya hasil dari pengikisan batuan kapur ). Proses ini terjadi karena Proses Geomorfologi dan juga karena Proses Geologi.
2)      Kemiringan Lereng ( 95 – 90 = 5 ). 90 itu adalah titik dasar. Pada Percobaan ini sama dengan yang pertama tapi kami melakukan pada tempat yang berbeda. dan Prosesnya juga sama seperti percobaan 1. Akan tetapi Lerengnya menghadap ke ( Barat Daya ).
3)      Kemiringan Lereng ( 110 – 90 = 20 ). 90 itu adalah titik dasar. Pada Percobaan ini juga sama seperti yang tadi akan tetapi tekstur pasirnya itu adalah ( Halus, menggumpal ) dan Strukturnya itu tidak terlalu mudah lepas, dan batunya itu jelas berkapur, dan Prosesnya ini terjadi karena Angin maupun Air.

Hasil                :  Jenis Batuan di Babah dua merupakan batuan kapur dan kemiringan lereng agak landai.
Kesimpulan     : Daerah Babah dari hasil tenaga endogen dan eksogen dan jenis           batuanya kapur.

B.     Hasil Observasi

1)      Bentuklahan proses struktural terdapat di kawasan babah dua berupa tebing bebatuan yang menggantung yang juga diakibatkan oleh adanya pelapukan batuan dan tenaga gravitasi.
2)       Batuan di kawasan Lampuuk babah dua ini mengalami sesar yang diakibatkan tekanan yang cukup kuat dari dalam.
3)      Terdapat gua didalam tebing batuan ini yang banyak ditemukan stalagmit dan stalagtit yang  dihuni oleh kelelawar.








BAB IV
KESIMPULAN
A.    Kesimpulan

1)      Pengunungan mata ie merupakan daerah dataran tinggi, hutan yang terdapat di pengunungan ini termasuk tipe hutan tropis.
2)      di kawasan babah dua merupakan daerah dengan bentuklahan hasil proses dari marin dan struktural.
3)      Batuan-batuan yang menggantung di tebing babah dua diakibatkan karna adanya pelapukan dan pengaruh gravitasi sehingga batuan yang lebih tua jatuh.
4)      Terdapat gua didalam tebing batuan di babah dua dan nanyak terdapat stalagmit dan stalagtit yang  dihuni oleh kelelawar.
5)      Lereng merupakan sebuah permukaan tanah yang terbuka yang berdiri membentuk sudut tertentu terhadap horisontal namun  tanpa memiliki perkuatan.
6)      Bahwa batuan di babah dua mengandung kapur dan ketinggian yang di milikinya juga berbeda beda ini terlihat dari hasil pengukuran menggunakan meteran,dari hal itu kita tahu bahwa adanya ketidaksamaan permukaan permukaan tanah dan lereng di babah dua tersebut.
7)      Dari hasil yang diperoleh kami menyimpulkan bahwa daerah Mata Ie itu dulunya merupakan lautan luas yang setelah berjuta- juta tahun baru terjadi tanah/ dataran.

B.     Saran

1.    Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih luas.
2.    Institusi Pendidikan
Dapat menambah kepustakaan.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Hasmunir. 2011.Geomorfologi. Unsyiah. Banda Aceh
2.      Sujosumarto.1977.Proses-proses bentuklahan alami.Jakarta.
3.      Asikin, sukendar.Geologi Struktur Indonesia.geologi ITB.
4.      fitriachemistry.blogspot.com/2010/04/stalagtit-dan-stalagmit.html?m=1