Laporan
OBSERVASI
GEOMORFOLOGI
GEOMORFOLOGI
(
Gunung Mata Ie dan Lampuuk Babah 2 )
Disusun
Oleh:
1406101040039
(
Unit B )
Drs. Hasmunir, M.Si
UNIVERSITAS
SYIAH KUALA
PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
S-1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
DARUSSALAM
BANDA ACEH
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Geomorfologi
adalah sebuah studi ilmiah terhadap permukaan Bumi dan proses yang terjadi
terhadapnya. Secara luas, berhubungan dengan landform (bentuk lahan)
tererosi dari batuan yang keras, namun bentuk konstruksinya dibentuk oleh
runtuhan batuan, dan terkadang oleh perilaku organisme di tempat mereka hidup.
Bentuk
lahan merupakan bentuk pada permukaan bumi sebagai hasil perubahan bentuk
permukaan bumi oleh proses – proses gemorfologi yang beroperasi dipermukaan
bumi . semua perubahan fisik maupun kimia pada permukaan bumi oleh tenaga –
tenaga geomorfologi. Semua tenaga yang ditimbulkan oleh medium alam yang berada
dipermukaan bumi termasuk di atmosfer . Proses merupakan perubahan bentuk lahan
dalam waktu relatif pendek akibat adanya gaya eksogen serta waktu perkembangan
relatif pendek. Bentuk lahan atau Landform adalah bentukan alam
di permukaan bumi khususnya di daratan yang terjadi karena proses pembentukan
tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu pula (Marsoedi, 1996).
Mata Kuliah Geomorfologi, setiap tahunnya melakukan
penelitian atau Observasi yang mana untuk menambah pengetahuan dan pengalaman
para mahasiswa yang mana kegiatan Observasi tersebut dilakukan di Gunung Mata
Ie dan Lampuuk Babah 2. Pada Gunung Mata Ie kami melakukan pendakian disana
untuk mencari yang namanya Dolin, tapi pada saat kami sudah mendaki ternyata
kami tersesat jadi kami harus turun lagi untuk mencari Dolin yang lain.
Pada Saat kami pergi ke Lampuuk Babah 2, kami disana untuk melakukan
kegiatan yaitu mengukur kemiringan lereng, Bentuk lahan marin yang
berasal dari pasir yang mengalami pelapukan dari batu yang jatuh yang terbentuk
karena angin membentuk bukit pasir, termasuk batuan kapur.
B. Tujuan Observasi
1.
Dengan melakukan observasi kelapangan
diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami teori-teori yang dipelajari sehingga
dapat di aplikasikan pada masyarakat.
2.
Dapat melihat langsung bagaimana yang di
maksud dengan doline.
3.
Agar dapat menghitung kemiringan suatu lereng secara langsung.
4.
Mengenal lebih dalam bentuklahan bentuk
asal struktural
C.
Waktu dan Tempat Observasi
Observasi ini di
laksanakan pada hari Senin pada tanggal 2 Juni 2015 yang tepatnya di
dua tempat yaitu :
1)
Gunung Mata ie
2)
Lampuuk Babah 2
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Alat-Alat
Yang Digunakan Observasi dan Fungsinya
a. Palu : untuk mengetok batuan yang didalam bukit, tapi kami tidak
ada palu, jadi kami menggantikan dengan batu seadanya.
b. Botol : untuk memasuki HCL.
c. Pipet : untuk meneteskan
HCL pada batuan
d. Sarung tangan : untuk melindungi
tangan dari tetesan HCL dan H2O2.
e. Timba : digunakan untuk memasuki alat-alat observasi
f. Kayu : untuk mengetahui kemiringan lereng
g. Bolot : untuk mengukur keseimbangan
h. Meteren : untuk mengukur kemiringan lereng
i.
Busur : untuk mengetahui siku-siku dari kayu
Botol
dan Pipet
|
Kayu
|
![]() |
![]() |
Bolot
|
Meteran
|
![]() |
![]() |
B.
Penelitian
di tempat Gunung Mata Ie
Pegunungan ini terjadi akibat dari proses
lipatan yang bersifat denudasional dan kemudian mengalami proses pengangkatan,
dan hal ini di tandai dengan adanya patahan batuan yang ada di sekitar
pegunungan serta bukit terjal yang mengelilinginya. Struktur tanah yang
terdapat di kawasan gunung mata ie merupakan hasil dari pelapukan batuan yang
keras dan belum mengalami pelapukan secara sempurna, sehingga merupakan tanah
yang subur.
Gunung Mata Ie ini juga terbentuk karena adanya tenaga endogen ( tenaga
dari dalam ) sehingga terjadi pengangkatan yang terbentuk patahan ( sesar ).
Semua tebing tersebut termasuk batuan karst. Dan ditebing tersebut terdapat
gua, gua itu terbentuk karena adanya kandungan batuan kapur, batuan kapur itu
mudah larut jadi menyebabkan terbentuknya gua tersebut dan mengalami pengikisan
yang disebabkan oleh air hujan dan angin, dan lama kelamaan terbentuklah
Stalagtit dan Stalagmit. Stalagtit dan Stalagmit yang sering kita jumpai di
goa-goa berasal dari senyawa CaCO3 dengan persamaan reaksi :
Ca ( HCO3 )2 (1) → CaCO3 (s) + H2O (1) + CO2 (g)
1. Stalagtit
Stalagtit adalah Batu
kapur yang tumbuh dari bagian atas goa menuju ke dasar goa.
2. Stalagmit
Stalagmit adalah Batu kapur yang tumbuh
menjulang dari dasar goa (bawah) ke
atas.
Bentuk lahan bentukan asal proses pelarutan
berkembang dengan beberapa syarat sebagai akibat dari proses pelarutan, yaitu :
1) Terdapat batuan yang
mudah larut
2) Batu gamping dengan
kemurnian tinggi
3) Mempunyai lapisan
batuan yang tebal
4) Pada daerah tropis
basah
5) Terdapat banyak
diaklas ( retakan )
6) Vegetasi penutup yang
lebat
Menurut Jenings (1971), Karst merupakan suatu
kawasan yang mempunyai karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama
disebabkan oleh larutan batuannya yang tinggi.
Tektonisme menjadi faktor penentu pula, sesar
(fault) dan kekar (joint) menjadi faktor yang amat penting. Menurut Faniran
dandan jeje (1983), kekar-kekar yang terdapat pada batuan itu memberikan
regangan mekanik, sehingga memudahkan gerakan air melalui batuan itu. Adanya
kekar maupun sesar ini memudahkan pelarutan di dalam batuan.
Bentuk lahan karst dapat dikelompokkan menjadi
2 bagian, yakni bentuklahan negatif dan bentuk lahan positif. Bentuk lahan
negatif terdiri dari: Doline, Uvala, Polje, Blind Valley. Sedangkan bentuklahan
positif terdiri dari: Kygelkarst dan turmkarst. Dalam hal ini saya akan
menjelaskan sedikit ulasan tentang bentuk lahan negatif khususnya Doline karna
menyangkut dengan materi observasi.
Doline merupakan suatu istilah yang mempunyai
banyak sinonim antara lain. Sink, sinkhole, cockpit, blue hole, swallow hole,
ataupun cenote. Doline itu sendiri diartikan oleh Monroe (1970) sebagai suatu
ledokan atau lobang yang berbentuk corong pada batugamping dengan diameter
hingga 1 km dan kedalamannya dari beberapa meter hingga ratusan meter.
C.
Penelitian
di tempat Lampuuk Babah 2
Pantai babah dua
merupakan daerah pesisir, yang memiliki kemiringin lereng diberbagai tempat. Di
pantai ini juga terdapat batuan hasil lipatan yang terjadi dalam air laut.
Daerah ini merupakan pantai atau daerah pesisir yang memiliki keindahan
tersendiri. Di samping tempatnya yang indah dan nyaman untuk berekreasi bersama
keluarga, kita juga dapat menyaksikan keindahan alam yang begitu indahnya.
1)
Proses struktural
Bentuklahan struktural terbentuk karna adanya
proses endogen yang disebut proses tektonisme atau diatropisme. Proses ini
meliputi pengangkatan, penurunan, dan pelipatan kerak bumi sehingga terbentuk
struktur geologi yaitu lipatan dan patahan.
Bentuklahan ini ditentukan oleh tenaga endogen
yang menyebabkan terjadinya deformasi perlapisan batuan dengan menghasilkan
struktur lipatan, patahan, serta perkembangannya.
Bentuklahan ini dicirikan oleh adanya
perlapisan batuan yang mempunyai perbedaan ketahanan terhadap erosi. Akibat
adanya tenaga endogen tersebut maka terjadi deformasi sikap (attitude)
perlapisan batuan yang semula horizontal menjadikan miring atau bahkan tegak
dan membentuk lipatan. Penentuan nama suatu bentuk lahan struktural pada
dasarnya didasarkan pada sikap perlapisan batuan (dip dan strike).
Disamping itu tenaga penyebab terjadinya
bentukan struktural ini dapat berupa tekanan dari lapisan diatasnya yang tebal
ke arah vertikal (bawah) sehingga massa sedimen yang lemah dan lunak dibawahnya
tertekan.
2)
Proses Marin
Bentuklahan proses marin dimaksudkan
bentuklahan yang diakibatkan oleh adanya kegiatan gelombang dan arus laut yang
membawa material sedimen laut dan diendapkan pada suatu mintakat yang
dipengaruhi oleh gelombang dan arus tersebut. Perbedaan utama kenampakan bentuk lahan ini
pada suatu kondisi apakah pantai berbatu, pantai penghalang, pantai berpasir,
pantai berlumpur atau lagun.
Bentuklahan proses marin antara lain :
·
platform (rataan pasang surut)
·
cliff dan notch
·
spit (lidah gosong pasir laut)
·
ledok antara beting pasir laut
·
hamparan lumpur (mudflat)
·
dataran pantai
|
·
gisik
·
beting gisik
·
tombolo
·
dataran aluvial pantai
·
teras marin
·
lagun
|
3)
Dinding
Tebing yang terjal
Daerah pantai babah
dua lampuuk ini merupakan daerah pesisir bertebing terjal, pantai biasanya
bentuk batuannya berkelok-kelok dan banyak terdapat gerak massa batuan sehingga
menyebabkan tebing bergerak dan mengalami kemunduran terutama pada pantai yang proses
abrasinya aktif. Pesisir bertebing terjal pada umumnya menunjukkan kenampakan
mirip lereng atau lembah pengikisan yang pasang surut gelombangnya mengikis
bagian tebing dan meninggalkan bekas abrasi.
Batuan yang terdapat
di tebing yang terjal yang terletak di kawasan babah memiliki struktur yang
berbeda-beda.jika kita melihat dengan nilai kesenian itu merupakan sebuah seni
yang tak ternilai maknanya.namun,saat ini yang timbul di pikiran kita, apa yang
menyebabkan tebing tersebut terjal dan memiliki bentuk yang tak sama? dan
jawabannya adalah karena tebing tersebut mengalami pengikisan oleh angin maupun
air (ombak).bagian bawah tebing terlalu ke dalam,dan berbeda dengan tebing yang
ada di bagian atasnya yang terlalu mencondong ke arah pantai.ini merupakan
salah satu akibat pengikisan yang di lakukan oleh air (ombak) bagian bawah
tebing selalu terkena hembusan ombak,dan semakin lama semakin mendur, berbeda
dengan bagian tebing yang diatas.
Ada pula batuan-batuan
yang terdapat di tebing tersebut lama-kelamaan mengalami pelapukan dan akan
jatuh ke permukaan pantai sebagai tekstur yang sudah berubah.bukan lagi jenis
batu,melainkan tekstur lain yaitu tanah.
4)
Batuan Kapur
Batuan kapur merupakan
batuan sebuah batuan sedimenterdiri dari mineral calcite (kalsium carbonate).
Sumber utama dari calcite ini adalah organisme laut. Batuan kapur atau batuan
gamping (limestone) termasuk batuan sedimen. Batuan sedimen sering pula disebut
dengan batuan endapan. Batuan ini berwarna putih, kelabu, atau warna lain yang
terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3). Batuan kapur ini pada dasarnya berasal
dari sisa-sisa organisme laut seperti kerang, siput laut, radiolarit,
tumbuhan/binatang karang (koral), dan sebagian yang telah mati.
5)
Mengukur Kemiringan Lereng
Lereng merupakan sebuah permukaan tanah yang terbuka yang berdiri membentuk
sudut tertentu terhadap horisontal namun tanpa memiliki perkuatan.
Lereng dapat terjadi secara ilmiah maupun buatan manusia. Jika tanah tidak
horisontal, suatu kSelain untuk mengetahui kemiringan lereng, identifikasi
tentang garis kontur juga dapat untuk mengetahui bentuk lereng. Berdasarkan
bentuknya, lereng dapat berbentuk seragam, cekung, ataupun cembung.
BAB
III
HASIL
PENELITIAN
A. Praktikum
Hari dan Tanggal : Selasa,02 Juni 2015
Tujuannya : Melihat jenis batuan dan
kemeringan lereng
Alat dan Bahan : Meteran, Kayu dan Cairan HCl
Cara Kerja :
a)
Untuk Menguji Batuan :
·
Ambil sedikit cairan HCl, Teteskan HCL
ke batu sampel.
·
Jika hasilnya Berbuih maka jenis batu
kapur.
b)
Untuk mengukur kemiringan lereng
·
Tancapkan kayu ke pasir lalu sisipkan
kayu pada bidang dasar dan bidang miring kayu sehingga membentuk sudut
siku-siku.
·
Ukurlah Sisi-sisi pada kayu tersebut
dengan mengunakan meteran yang telah di bawa.
Percobaan :
1)
Kemiringan Lereng ( 100 - 90 = 10 ). 90
itu adalah titik dasar, dan pasir ini adalah Pasir agak landai. dan Lerengnya
menghadap ke ( Timur Laut ).
Tekstur pada pasir ini ( Kasar, mudah lepas, mengandung karang, dan
kapurnya hasil dari pengikisan batuan kapur ). Proses ini terjadi karena Proses
Geomorfologi dan juga karena Proses Geologi.
2)
Kemiringan Lereng ( 95 – 90 = 5 ). 90
itu adalah titik dasar. Pada Percobaan ini sama dengan yang pertama tapi kami
melakukan pada tempat yang berbeda. dan Prosesnya juga sama seperti percobaan
1. Akan tetapi Lerengnya menghadap ke ( Barat Daya ).
3)
Kemiringan Lereng ( 110 – 90 = 20 ). 90
itu adalah titik dasar. Pada Percobaan ini juga sama seperti yang tadi akan
tetapi tekstur pasirnya itu adalah ( Halus, menggumpal ) dan Strukturnya itu
tidak terlalu mudah lepas, dan batunya itu jelas berkapur, dan Prosesnya ini
terjadi karena Angin maupun Air.
Hasil : Jenis Batuan di Babah dua merupakan batuan
kapur dan kemiringan lereng agak landai.
Kesimpulan : Daerah Babah dari hasil tenaga endogen
dan eksogen dan jenis batuanya
kapur.
B. Hasil Observasi
1) Bentuklahan proses
struktural terdapat di kawasan babah dua berupa tebing bebatuan yang
menggantung yang juga diakibatkan oleh adanya pelapukan batuan dan tenaga gravitasi.
2) Batuan di kawasan
Lampuuk babah dua ini mengalami sesar yang diakibatkan tekanan yang cukup kuat
dari dalam.
3) Terdapat gua didalam
tebing batuan ini yang banyak ditemukan stalagmit dan stalagtit yang
dihuni oleh kelelawar.
BAB IV
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1) Pengunungan mata ie
merupakan daerah dataran tinggi, hutan yang terdapat di pengunungan ini
termasuk tipe hutan tropis.
2) di kawasan babah dua
merupakan daerah dengan bentuklahan hasil proses dari marin dan struktural.
3) Batuan-batuan yang
menggantung di tebing babah dua diakibatkan karna adanya pelapukan dan pengaruh
gravitasi sehingga batuan yang lebih tua jatuh.
4) Terdapat gua didalam
tebing batuan di babah dua dan nanyak terdapat stalagmit dan stalagtit
yang dihuni oleh kelelawar.
5) Lereng merupakan sebuah permukaan tanah yang terbuka yang berdiri membentuk
sudut tertentu terhadap horisontal namun tanpa memiliki perkuatan.
6) Bahwa batuan di babah
dua mengandung kapur dan ketinggian yang di milikinya juga berbeda beda ini
terlihat dari hasil pengukuran menggunakan meteran,dari hal itu kita tahu bahwa
adanya ketidaksamaan permukaan permukaan tanah dan lereng di babah dua
tersebut.
7) Dari hasil yang
diperoleh kami menyimpulkan bahwa daerah Mata Ie itu dulunya merupakan lautan
luas yang setelah berjuta- juta tahun baru terjadi tanah/ dataran.
B.
Saran
1. Bagi
Mahasiswa
Mahasiswa dapat
memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih luas.
2. Institusi
Pendidikan
Dapat menambah
kepustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Hasmunir. 2011.Geomorfologi. Unsyiah. Banda Aceh
2.
Sujosumarto.1977.Proses-proses bentuklahan alami.Jakarta.
3.
Asikin, sukendar.Geologi Struktur Indonesia.geologi ITB.
4.
fitriachemistry.blogspot.com/2010/04/stalagtit-dan-stalagmit.html?m=1





Tidak ada komentar:
Posting Komentar